Penggunaan teori Sorellianisme dalam membedah fenomena peringatan Haul di Pandam Gadang memberikan lensa untuk melihat bagaimana sebuah mitos dikonstruksi. Perhelatan ini nampaknya telah berhasil menjadi instrumen mobilisasi yang tertata meski secara dialektis mengalami distorsi mekanistik yang unik. Jika kita memosisikan Ibrahim Datuk Tan Malaka sebagai subjek pengamat materiil di tengah kerumunan tersebut beliau mungkin akan tertegun menyaksikan sebuah simulakara politik yang begitu rapi. Ketidakkonsistenan ortografis pada penulisan Khaul yang secara filologis merupakan kegagalan penyerapan dari terminologi Arab Haul menjadi indikator awal tentang bagaimana penyelenggara memiliki interpretasi bahasa yang sangat mandiri. Bagi mereka, mungkin cacat ejaan pada spanduk tersebut adalah manifestasi kreativitas kultural yang lebih mementingkan aspek visual daripada beban berat substansi pemikiran.
Tan sebagai arsitek Madilog dipastikan akan mengamati prosesi tabur bunga di atas situs keabadian tersebut sebagai bentuk fetisisme komoditas yang eksotis. Upaya memfungsikan kembali tanah makam sebagai pusat perhatian tahunan menunjukkan keberhasilan panitia dalam merawat Logika Mistika di era modern. Beliau akan melihat bagaimana gagasan radikalnya mengenai kedaulatan rakyat kini telah mengalami kooptasi ideologis yang sangat halus diubah menjadi penghormatan artifisial yang nampak khidmat juga menenangkan. Pihak penyelenggara patut diapresiasi karena mampu membungkus sosok yang dulunya diburu dalam kesunyian perlawanan ini ke dalam panggung yang ramah terhadap dokumentasi serta citra publik.
Momentum tersebut berkembang menjadi teater hegemoni yang dibungkus gemerlap budaya. Dalam acara tersebut massa diposisikan sebagai audiens dalam sebuah skenario pertunjukan. Tan mungkin mencatat kontradiksi internal yang menakjubkan bagaimana mungkin figur yang seluruh hidupnya menghantam kemapanan kini dirayakan dengan aktivitas yang justru menjinakkan keliaran gagasannya. Fenomena ini menunjukkan kemajuan dalam melakukan penjinakan intelektual di mana api revolusioner panas telah didinginkan menjadi tontonan yang mewariskan tradisi kehadiran fisik semata. Seluruh rangkaian agenda ini merupakan pelarian estetik dari tanggung jawab berat untuk membedah persoalan struktural masyarakat hari ini.
Jika menelaah melalui pisau analisis Materialisme, Dialektika, dan Logika, tindakan merayakan Haul dengan kemegahan simbolik sejatinya adalah strategi efektif untuk menghaluskan relasi kuasa yang ada. Tan menekankan bahwa kemajuan bangsa hanya dicapai jika otak manusia dibebaskan dari pengkultusan sosok secara buta. Namun penyelenggara nampaknya memiliki visi berbeda dengan membangun kultus individu baru yang dibungkus narasi sejarah yang indah. Pesan radikal dalam buku Madilog kini telah disaring sedemikian rupa agar selaras dengan ketenangan prosesi simbolik.
Ini merupakan sebuah apropriasi budaya yang sangat rapi terhadap sejarah perjuangan. Nama besar tokoh digunakan sebagai instrumen memperkuat aura kewibawaan di hadapan khalayak. Sosok asli yang konsisten menolak privilese kini berhasil diletakkan dalam bingkai formal serta terjaga. Tercipta paradoks indah di mana figur anti feodal dirayakan dengan cara-cara yang justru membuat rakyat merasa cukup hanya dengan melihat seremoni tanpa perlu terbebani oleh esensi gagasannya yang rumit.
Massa Cosplay merujuk pada kondisi publik yang berperan sebagai elemen visual pelengkap agenda. Masyarakat diajak menjadi saksi atas narasi panggung teatrikal tanpa perlu terlibat dalam dialektika pemikiran yang melelahkan. Tan akan melihat ini sebagai pencapaian dalam menciptakan kerumunan patuh. Alih-alih melahirkan generasi kritis model peringatan ini sukses melestarikan mentalitas yang merasa cukup hanya dengan hadir dan memberikan penghormatan formal belaka.
Kesalahan etimologis pada kata Khaul menegaskan bahwa bagi pelaksana kecepatan eksekusi lebih utama daripada akurasi literatur. Dalam disiplin penelitian ketelitian adalah prinsip dasar namun di panggung ini kekeliruan tersebut justru menunjukkan betapa fleksibelnya sejarah saat dijadikan komoditas sesaat. Tan yang sangat disiplin mungkin akan tersenyum melihat bagaimana kebenaran objektif bisa ditekuk oleh persepsi dangkal yang ditampilkan penuh percaya diri oleh para pengatur acara.
Pada akhirnya Haul Tan Malaka di Pandam Gadang adalah mahakarya Logika Mistika yang berhasil dipanggungkan. Menghormati bapak bangsa telah direduksi menjadi seremoni satu hari yang fotogenik namun minim makna. Penyelenggara seolah ingin meyakinkan kita bahwa penghormatan sejati memadai dilakukan dengan tumpukan bunga bukan melalui upaya menghidupkan kembali keberanian berpikir kritis atau mengurai persoalan riil.
Selama panggung teater lebih diminati daripada usaha mendekatkan pemuda dengan api pemikiran aslinya maka sosok Tan Malaka akan tetap aman terkubur di bawah tumpukan karangan bunga. Kita tidak lagi disuguhi barisan pemikir melainkan deretan penonton yang memuja masa lalu demi pemanis konten. Jangan biarkan relevansi tokoh ini benar benar habis di bawah tumpukan bunga yang sebagaimana seremoninya akan segera layu serta terlupakan dalam hitungan jam.